Friday, August 23, 2019
Home » ASAS ISLAM » Aqidah » Dosa-Dosa Besar » Memutuskan Hubungan Silaturrahim Dengan Saudara Mara

Memutuskan Hubungan Silaturrahim Dengan Saudara Mara

Download PDF

Allah Berfirman:

“Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-yebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silaturrahim) kaum kerabat”. (An-Nisa’: 1)

Maksudnya jangan sampai memutus hubungan silaturrahim.

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerosakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka.(Muhammad: 22-23).

“Dan orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak mencabuli perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk”. (Ar-Ra’d: 20-21)

“Dengan (al-Quran) itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerosakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi”. (Al-Baqarah 26 – 27)

Dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:

“Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan ikatan silaturahim”. 1

Barangsiapa memutuskan hubungan dengan saudara-maranya yang lemah, memulaukan mereka, bersikap sombong terhadap mereka, dan tidak berbuat baik kepada mereka, sedangkan dia kaya dan mereka pula miskin, maka dia termasuk kategori yang diancam dengan hadis ini. Terhalang dari masuk syurga, kecuali jika bertaubat kepada Allah lalu berlaku baik kepada mereka.

Rasulullah s.a.w telah bersabda, “Barangsiapa mempunyai saudara mara yang lemah tetapi tidak berlaku baik kepada mereka malah memberi sedekah kepada orang lain, nescaya Allah tidak akan menerima sedekahnya dan tidak akan memandangnya pada hari kiamat. Sedangkan barangsiapa dalam keadaan fakir, hendaknya menyambung (ikatan silaturahim) dengan megunjungi mereka dan selalu bertanyakan kabar” . 2

Nabi s.a.w telah bersabda. “Sambunglah hubungan silaturahim antara kamu walaupun hanya dengan ucapan salam.” 3

Baginda s.a.w juga bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menyambung ikatan silaturahim”. 4

Dalam sebuah hadits disebutkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda;

“Orang yang “menyambung” (silaturrahim) itu bukan mukafi’ (orang yang melakukannya jika kerabatnya terlebih dahulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang “menyambung” adalah orang yang jika kamu memutuskan hubungan dengannya lalu dia menyambungnya.” 5

Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman:

“Aku adalah ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dan dia adalah ikatan silaturahim. Barangsiapa yang menyambungnya Akupun menyambung hubungan dengannya. Dan barangsiapa memutuskannya Akupun memutuskan hubungan darinya.” 6

Ali bin Husein berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, jangan sekali-kali kamu bersahabat dengan orang yang memutuskan hubungan silaturahim. Sesungguhnya aku mendapatkannya terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat”.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahawa dia mengadakan majlis pengajian hadis Rasulullah s.a.w. Dia berkata. “Aku merasa sesak dada pada setiap orang yang memutuskan ikatan silaturahim sampai orang itu pergi dari sini.” Makciknya berkata, “Kembalilah ke majlis dan ceritakan kepada Abu Hurairah tentang pergaduhan antara dia dan makciknya”. Dia bertanya, “Mengapa anda tidak mahu bersama dalam majlis dengan orang yang telah memutuskan ikatan silaturahim?”. Abu Hurairah menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, “Sesungguhnya rahmat tidak akan turun kepada suatu golongan yang di dalamnya ada orang yang memutuskan ikatan silaturahim”.

Sabda nabi s.a.w dalam hadits yang sahih, “Tidak akan masuk syurga orang yang memutuskan.”7 Maksudnya memutuskan hubungan silaturrahim seperti saudara perempuan, mak cik, sepupu dan sebagainya dari saudara maranya.

Kita memohon taufiq kepada Allah untuk dapat mentaatiNya. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

 

 

Nota kaki:
1. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5984); Muslim (2556), Abu Daud (1696) dan At-Tirmizi (1909) dari Jabir bin Muth’im.
2. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari isnadnya dhaif
3. Hasan. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dari Ibnu Abbas Ath-Thabrani dari Abu Thufail dan Al-Baihaqi (7973) dari Anas (7972) dari Suwaid bin Amir. Dan dihasankan oleh Al-Albani dalam “Shahih Al-Jami’ ” (2838) dengan lafaz “balluu” dan riwayat Al-Bukhari (5990) dari Amru bin Ash dengan lafaz “walaakin lahum rahimun abuiluha bibalalihaa”, maksudnya saya menyambungnya dengan menyambung tali silaturahim.
4. Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6138) dari Abu Hurairah.
5. Sahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5991), Abu Daud (1697), At-Tirmizi (1908) dan Ahmad (2/190) dari Abdullah bin Amr.
6. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam “Asy-Syu’ab” (7966) dan Al-Haitsaami dalam “Al-Majma’ ” (8/151) berkata, diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya tsiqah.
· Nota: Saringan oleh www.darulkautsar.net dari buku terjemahan “Al-Kabair (Dosa-dosa Besar)’ karangan Imam Az-Zahabi. Buku terjemahan asal boleh dicapai di sini- https://drive.google.com/file/d/0B0r1wFGeMOw5eDdpZjM4a2YyRG8/edit
Share...Pin on PinterestShare on Google+Share on FacebookDigg thisPrint this pageShare on RedditTweet about this on TwitterShare on LinkedIn
Download PDF

Check Also

Mengadu Domba (Namimah)

  Orang yang mengadu domba adalah orang yang menyampaikan cerita dari satu orang kepada yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *